Bekerja dari rumah, bukanlah hal baru. Bukan hal yang asing karena memang aku tak pernah punya kantor tetap yang mengharuskan masuk Senin-Jumat pk 9.00-17.00
Mengetahui kesulitan banyak orang yang kini melakukan segalanya sendiri, hanya terhubung lewat telepon atau video call, aku jadi ingat perjuanganku beberapa tahun lalu.
Aku lulus tahun 2014 hampir akhir tahun.
Efektif mulai bekerja Maret 2015, di perusahaan sepupu yang baru berusia beberapa bulan.
Aku bisa mengerjakan tugasku dari mana saja, selama ada laptop dan koneksi internet. Pada awal aku kerja juga tempat kami tidak cukup untuk aku terus ada di situ.
Di rumah, aku ga punya meja kerja, jadinya ngerjain apapun di kasur dengan meja lipet. Atau sambil tengkurap, senderan setengah tidur. Kurang proper lah.
Pernah juga aku tetap ke gedung tempat kami membuka usaha, tapi bekerja dari cafe di bawah. Paling tidak berasa vibe pergi ke suatu tempat.
Maret 2016 aku memutuskan freelance, saat itu ada beberapa opsi yang aku bisa jajaki.
Juli 2016 aku pertama kali dapat kerjaan murni aku rancang konten proyeknya, berapa lama, dan fee.
Dari proyek itu berlanjut jasaku dipakai oleh klien sampai hampir setahun untuk mengerjakan area lain dalam bisnisnya.
Modelnya mirip sama kerjaan pertamaku, aku bisa kerjakan di rumah, hanya perlu sesekali ke tempat klien.
Di masa ini aku udah lumayan belajar bahwa kerja di kasur, ga produktif. Aku mulai kerja di meja di ruang tamu meskipun jadi kepanasan karena ga ada AC. Beneran duduk di kursi dan berkreasi di atas meja membantu produktivitasku.
Beberapa tahun setelahnya, dengan proyek dan klien berbeda aku berulang kali dihadapkan pada mekanisme kerja di rumah. Rapat dari rumah, bikin presentasi dari rumah, menyusun laporan dari rumah.
Singkat cerita sekarang aku bisa kerja dengan kursi dan meja di kamarku. Ada tempat untuk dokumen juga sehingga mempermudah kerja.
Awal 2019 aku pindah ke apartemen 2 kamar. Area tengah nyambung dengan area dapur dan menuju balkon. Ya mudah2an kebayang lah bentuknya. Aku mulai telaten kerja di situ, kemudian ada tantangan baru. Aku tergoda untuk masak daripada kerja. Kebetulan juga saat itu aku ada kerjaan mengajar yang ga bisa dari rumah, aku harus pergi ke tempat ngajar. Jadilah jam2 berharga sebelum berangkat ngajar akhirnya berakhir dihabiskan di dapur. Habis masak, capek, rebahan. Ketika kupaksa mengerjakan pun aku tak tahan duduk lama salah satu sebabnya karena kursi yang tersedia membuatku sakit pinggang.
Sudah kurang motivasi, ada distraksi memasak, sarana kerja tidak mendukung.
Awal 2020, aku menemukan tempat kerja baru, sebuah coworking space 5 km dari tempatku tinggal. Buatku yang tumbuh besar di Jakarta Timur tapi sekolah di Jakarta Pusat, 5 km terasa koprol sebentar nyampe, walaupun kenyataannya butuh 20-30 menit menjangkaunya. Duduk di tempat yang bukan rumah, ada meja dan laci khusus untukku, sungguh membantu untuk fokus bekerja. Aku sampai lupa waktu saking asiknya. Hal ini juga ga baik, karena aku jadi lupa makan. Beneran tidak berasa lapar, namun meresikokan kesehatanku. Akhirnya aku juga ga sering kerja di tempat itu, lebih memaksimalkan ruang meeting untuk bertemu klien. Di masa ini aku mulai menjalankan bisnis pribadi (personal enterprise) di bidang pengembangan diri dengan layanan berupa konseling dan workshop.
Sampailah kita di masa sekarang, dari berbagai pekerjaan yang kujalani, tidak semua bisa dikonversi menjadi online. Mengajar ekstrakurikuler di SMP dan mengajar Biologi di bimbel masuk PTN , blas, tidak bisa dilakukan sama sekali. Tidak ada kebutuhan juga karena ujian nasional dibatalkan dan tes masuk PTN meniadakan tes mata pelajaran.
Yang masih bisa kulakukan, syukurnya, menerima klien konseling dengan video call dan mengembangkan workshop dengan video conference.
Aku punya pilihan tempat kerja di ruang tengah, dengan resiko terdistraksi kulkas dan dapur, atau di dalam kamar dengan resiko ingin rebahan.
Aku coba menata barang-barang di kamar sehingga lebih ada space untuk bekerja. Di kamar pun aku punya pilihan bekerja dengan kursi dan meja, atau di kasur dengan meja lipat. O ya, setelah insiden sakit pinggang karena kursi ruang tengah, aku membeli kursi kerja yang ergonomis. Tetap perlu stretching sebelum dan sesudah duduk lama, tapi sangat jauh lebih menjaga pinggang daripada kursi sebelumnya.
Masalah pinggang ini sungguh jadi tantanganku di masa jaga jarak ini. Aku tidak bisa ke dokter atau fisioterapis untuk membantu kesembuhan. Andalanku sekarang adalah yoga dan meditasi.
Duduk bersila di kasur dengan meja lipat terbukti tidak baik untuk pinggang. Maka aku sekarang disiplin bekerja di meja dengan kursi ergonomis dan sandaran kaki dari barang yang tersedia.
Tulisan ini kubuat dengan setting kerja demikian.
Bahkan kalau video call, aku punya seperti alat dongkrak untuk menaruh laptop agar layarnya sejajar dengan mata.
Lewat tulisan ini aku ingin berbagi perjalananku menemukan pengaturan yang pas untuk kebutuhan dan kebiasaan bekerjaku. Dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarku, sedikit upgrade barang-barang pendukung.
Aku butuh waktu segitu lama, dengan variasi jenis pekerjaan dan tempat bekerja sampai menemukan ritme kerja yang nyaman. Semoga teman-teman bisa menemukan yang cocok untuk teman-teman. Kalau ketemu dalam waktu singkat, baguuus… selamat untuk Anda. Kalau sekarang masih bingung coba yang mana dulu, atau sudah mulai coba tapi belum ketemu yang pas… gapapa… teruskan pencarian Anda…
Dengan intensi ingin lebih optimal berkarya, nanti ketemu caranya.
No comments:
Post a Comment