Friday, April 3, 2015

Pekan Suci [1]

1 April 2015
Hari ini hari terakhir sebelum memasuki pekan suci Prapaskah 2015. Setiap prapaskah, yang juga menjelang peringatan kelahiranku, selalu ada banyak persoalan yang terjadi, karena demikianlah Bapa di Surga mendidikku. Aku tidak tahu judul apa yang tepat untuk perjalananku kali ini, tapi semakin hari aku semakin yakin untuk menyerahkan hidupku padaNya. Setiap halangan setiap hambatan, setiap pengalaman tidak enak, sekilas rutukan dan keluhan yang ingin keluar. Namun ketika kubersedia melihatnya dari sudut yang lain, sesungguhnya Tuhan sedang melimpahkan rahmat lebih. Berapa kali kejadian malang menghantarkanku pada pertemuan yang menakjubkan dengan pribadi yang luar biasa. Berapa kali rencana yang meleset membuahkan memori yang menyenangkan dan tak terduga. Seperti sekarang ketika ku duduk di sebuah kafe karena terhalang lagi keberangkatanku ke kota asalku. Tuhan sungguh dengarkan jeritan hatiku yang merasa tak punya waktu untuk tekun menulis. Nih, dikasih, tak terencana betul olehku, tapi pastinya diatur olehNya.

2 April 2015
Hari ini perayaan Kamis Putih, air tumpah dari langit sepanjang siang. Aku mengikuti misa paling malam di gereja terdekat dari rumahku. Ada rasa syukur yang dalam menyertai setiap prosesi misa. Aku menikmati kesempatan mengenang perjamuan malam terakhir Yesus dengan para rasulnya, bersama keluargaku. Mengingat betapa sibuknya kami, merayakan misa bersama sungguh suatu anugerah.

Ketika prosesi Romo membasuh kaki 12 pria, mereka ulang kejadian yang sama yang Yesus lakukan kepada rasulNya, aku merasa terharu. Yesus sungguh teladanku untuk menjadi pemimpin yang melayani. Seorang anak Tuhan mau melakukan pekerjaan seorang hamba. Sedari kecil aku menyadari bahwa menjadi pemimpin bukanlah soal kuasa dan kejayaan. Menjadi pemimpin berarti menjadi hamba, bagi sesama.

Aku sepanjang malam diingatkan kembali akan tugas-tugas yang Tuhan ingin aku selesaikan. Aku menyadari terkadang aku enggan dan malas, dan berujung pada kelalaian. Tuhan malam itu mendengungkan di batinku, betapa Ia membutuhkan pengabdianku. Haha... semacam sulit saja tugas yang aku malas kerjakan ini, sesungguhnya tugas tersebut sungguh menyenangkan dan menjadi kerinduan banyak orang. Mendampingi seorang pria hebat menapaki jalan hidupnya.

Terima kasih Tuhan atas sapaan manisnya, aku rela melakukan apa yang Kau minta.

3 April 2015
Hari ini perayaan Jumat Agung. Sebelumnya aku menyempatkan rapat dengan bu bos yang akan berangkat ke luar negeri. Aneh rasanya dan sempat ditegur orang rumah, tapi beginilah caraku memuliakan Allah, tak hanya terbatas ritual. Ibadahku adalah pekerjaanku, maka segala yang kulakukan ini kupastikan demi perutusanku.

Pada akhirnya aku merayakan misa di tempat yang baru. Di sebuah ruang bawah tanah dan hanya dapat melihat layar. Merasakan syukur karena ayah dan ibuku memilih menjadi Katolik sehingga aku tak perlu memilih. Aku bahagia akan pilihan mereka dan menikmati pilihanku untuk tetap di jalur ini. Merasakan kasih Tuhan yang rela menanggung sengsara sehingga dosaku terhapuskan. Membayangkan betapa mudahnya jalan hidupku karena tak khawatir mengenai masuk surga. Yesus telah membeli tiket masuknya untukku. Aku hanya perlu fokus pada bagaimana menyenangkan hati Tuhan.

Aku tiba-tiba merindukan perjumpaanku dengan Allah Bapa dan Yesus di surga kelak. Kematian menjadi sarana perjumpaan itu, dan anehnya, aku akan sangat menantikan kematian tersebut. Dalam hati kuberikrar, bila salah satu orang tercintaku dipanggil Tuhan, sesungguhnya layaklah ku berbahagia karena mereka telah bertemu dengan Sang Pencipta, mengakhiri hidup di bumi yang penuh derita.

Aku merasa kualitas hubunganku dengan Yesus sekarang jauh lebih baik daripada tahun lalu. Aku menjadi pribadi yang lebih matang karena koneksi tersebut. Mengenang sengsaranya, mengingatkanku akan kesengsaraanku. Ia teladanku, bukan hanya ketika memimpin tapi juga dalam menjalani kesedihan. Yesus takut, Yesus marah, Yesus sedih, Ia sungguh Tuhan sungguh manusia. Apa yang aku rasakan, pernah Ia rasakan. Maka ketika kumengadu padaNya, kurasakan ketenangan karena kuyakin Ia dapat memahamiku.

Ia menjadi sama seperti kita untuk merasakan penderitaan kita. Sebagaimana demikian hidupku boleh diberi bumbu-bumbu derita sehingga aku memahami penderitaan orang lain. Setiap kesulitan dalam hidupku menjadi sarana pendidikan Tuhan, kelak aku jadi punya kemampuan untuk menolong orang dalam kesulitan serupa. Persis seperti yang Yesus rasakan dengan menjadi manusia.

Cintaku padaNya semakin menguat. Hidupku sungguh suatu perjalanan, dan menjadikannya berkenan di hadapan Tuhan, itulah perjuanganku.

No comments:

Post a Comment